Cirebontrust.id – Ketika Bupati Cirebon, H Imron Rosyadi memasuki Masjid Agung Sumber bukannya para pejabat atau pegawai kantoran yang bergegas bisa salat Jumat dekat orang nomor satu di Kabupaten Cirebon tersebut, tapi sejumlah anak usia Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI). Mereka rindu bisa bersalaman dan cium tangan bupati sebelum salat maupun setelah salat pada Jumat (2/10/2026) siang.
Salat Jumat selesai, anak-anak yang sebelumnya salat dekat Bupati Imron langsung berebut salaman dan cium tangan dengan alumni IAIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut. Tidak hanya itu, meskipun tidak ada yang mengatur, usai bersalaman ana-anak berbaris di depan pintu keluar masjid.
Bupati Imron yang sudah mempersiapkan uang pecahan kertas lima ribuan dan sepuluh ribuan baru langsung membagikannya kepada mereka. Bahkan, terkadang tidak hanya anak-anak ada lanjut usia (lansia) yang ikut berbaris untuk mendapatkan sedekah.
Pemandangan seperti itu rutin manakala Bupati Imron salat Jumat di Masjid Agung Sumber. Setelah keluar dari Masjid, pria kelahiran Cirebon, 17 Desember 1961 itu langsung menuju warung makan dan minum serta jajanan yang ada di pinggir halaman parkir.
Lagi-lagi, pejabat yang menyelesaikan S-2 Magister Manajemen, STIE Jakarta (1988) ini terlihat tak berjarak dengan siapa pun. H Imron berbicang santai dengan jurnalis, PNS di lingkungan Setda Kabupaten Cirebon, mahasiswa dan lainnya sambil menikmati makan siang atau jajanan yang ada di sana.
“Saya suka dan menyayangi anak-anak, karena waktu kecil saya juga seperti mereka, senang bersalaman dengan guru/ustadz, kiyai dan orang-orang sepuh,” kata Bupati Imron kepada adainfo.id.
Dikerumuni anak-anak setiap salat, terutama salat Jumat di Masjid Agung Sumber yang tak jauh dari kantor bupati, sejak menjabat Wakil Bupati Cirebon periode 2019. Berlanjut ketika jadi bupati periode pertama tahun 2019 – 2024, kemudian periode kedua tahun 2025 – hingga sekarang.
Ditanya sedekah untuk anak-anak pada setiap Jumat, Suami Hj. Nunung Roosmini itu mengaku suka melakukannya, termasuk kepada para dhuafah.
“Sedekah itu baik, apalagi dilakukan pada hari Jumat, hari yang paling bagus di antara hari – hari lainnya. Dan insyallah dilipatgandakan pahala dan rejekinya,” kata mantan pejabat Kemenag tersebut.
Saat asyik berbincang, Bupati Imron disalami sejumlah pemulung, dirinya langsung memberikan sejumlah uang dari saku baju batiknya. “Alhamdulillah….,:” kata seorang pemulung yang sudah lansia, bersyukur.
Menyinggung kaum dzuafah, Bupati Imron mengatakan, di daerah mana pun di Indonesia, orang tak mampu atau miskin itu ada., tentunya termasuk di Kabupaten Cirebon.
“Kabupaten Cirebon PAD-nya kecil, sementara Sumber Daya Manusia (SDM)-nya rendah, bahkan banyak yang kurang kreatif, wajar jika masih banyak yang tidak mampu,” ungkap mantan Ketua DPC PDIP Kabupaten Cirebon tersebut
Menurut Imron, berbeda dengan negara-negara yang ekonominya sudah mapan, sebut saja misalnya Jepang dan Korea, biaya pendidikan dan kesehatan ditanggung oleh negara. Kalau negara yang pendapatannya sudah besar penduduk miskin ditanggung oleh negara.
Bupati Imron termasuk low profil, penampilannya yang tenang seolah tidak mau pusing. “Saya memang tidak mau pusing. Termasuk kalau ada mahasiswa unjuk rasa, saya biarkan saja, kalau kritik atau aspirasinya baik, berguna untuk masyarakat ya kita tndaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku,” kata alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin itu.
Bupati Imron diam-diam punya resep tersendiri untuk menajaga kebugaran badan dan ketenangan jiwanya, baik sebagai pejabat maupun pribadinya yang sudah tidak muda lagi. “Resep saya cuma olahraga, olah pikir dan olah dzikir saja,” kata Bupati Imron menutup obrolannya.



















Tulis Komentar