Cirebontrust.id – Tradisi Sedekah Bumi, arak-arakan, dan nadran di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, diusulkan untuk kembali digelar. Usulan tersebut muncul dari sejumlah tokoh masyarakat yang menginginkan tradisi warisan leluhur itu kembali dihadirkan.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat yang berlangsung pada Selasa (15/9/2026). Salah satu agenda yang menjadi perhatian ialah pelaksanaan ider-ideran atau arak-arakan yang berkaitan dengan kawasan Makam Sunan Gunung Jati.

Juru Kunci atau Jeneng Makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, mengatakan usulan untuk kembali menyelenggarakan ider-ideran berasal dari masukan sejumlah tokoh masyarakat.

“Intinya berdasarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya acara ider-ideran itu diadakan kembali,” kata Nasirudin.

Dalam rencana pelaksanaannya, sejumlah penyesuaian akan dilakukan agar kegiatan tidak mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas warga. Salah satu penyesuaian tersebut berkaitan dengan rute arak-arakan.

Menurut Nasirudin, rute yang sebelumnya direncanakan mencapai kawasan Taman Krucuk kemungkinan akan dipersingkat hingga Klayan atau kawasan Pertamina.

“Rutenya mungkin yang tadinya sampai batasan Taman Krucuk, saya akan rubah sampai batasan di Klayan atau di Pertamina saja,” ujarnya.

Penyesuaian rute dipertimbangkan untuk mengurangi potensi kemacetan selama rangkaian kegiatan berlangsung. Dengan demikian, pelaksanaan tradisi tetap dapat berjalan tanpa terlalu mengganggu mobilitas masyarakat di sekitar lokasi.

Selain rute, perubahan juga direncanakan pada hari dan waktu pelaksanaan. Kegiatan yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Sabtu akan diusulkan digelar pada Minggu pagi.

“Tadinya hari Sabtu keberangkatan acara, saya akan ubah menjadi hari Minggu pagi,” katanya.

Tradisi Sedekah Bumi, arak-arakan, dan nadran dipandang sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Desa Astana. Tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kawasan Makam Sunan Gunung Jati yang menjadi salah satu pusat kegiatan budaya dan keagamaan di wilayah Gunung Jati.

Nasirudin berharap rencana penyelenggaraan kembali tradisi tersebut mendapat dukungan dari masyarakat Desa Astana dan wilayah sekitarnya.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi serta nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.